Analisis Terhadap Tradisi dan Nilai Budaya di Kawasan Cagar Alam Watu Ata (Studi Kasus Desa Wawowae, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur))
Abstract
Cagar Alam Watu Ata merupakan salah satu kawasan Cagar Alam dengan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang harus dilindungi. Keberadaan CA. Watu Ata yang berbatasan langsung dengan Desa penyangga memicu ancaman serta gangguan seperti perambahan. Oleh sebab itu, diperlukan strategi perlindungan dan pengelolaan secara optimal. Desa Wawowae merupakan salah satu dari 9 desa penyangga CA. Watu Ata yang ada di Kecamatan Bajawa, yang menggantungkan hidup secara sosial, ekonomi, dan budaya mengimplementasikan kearifan lokal dalam melindungi dan menjaga kelestarian kawasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan di kawasan CA. Watu Ata di Desa Wawowae, untuk mengetahui bentuk-bentuk kearifan lokal Desa Wawowae dalam pengelolaan kawasan CA. Watu Ata, dan untuk mengetahui keefektivitasan kearifan lokal dalam pengelolaan kawasan CA. Watu Ata di Desa Wawowae. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan data dikumpulkan melalui Observasi, Wawancara (wawancara secara mendalam), dan Dokumentasi. Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat tiga faktor yang menyebabkan kerusakan di Kawasan CA. Watu Ata, yakni faktor ekonomi, faktor pendidikan, dan faktor tenurial, terdapat empat bentuk kearifan lokal yaitu Tradisi dan Nilai Budaya, Norma (ajakan dan larangan), Sistem Pembagian Zona, dan Sanksi Adat. Kearifan lokal dinilai belum efektif, karena bertentangan dengan regulasi pemanfaatan Cagar Alam, khususnya pada sistem pembagian zona mala.
References
Anwar, M., Hafizianor, H., & Asysyifa, A. (2023). Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Meratus Dalam Pengelolaan Hutan Secara Tradisional Di Desa Atiran. Jurnal Sylva Scienteae, 6(1), 115.
Botha, H. H., Suharto, D. G., & Haryanti, R. H. (2018). Evaluation of the Impact of the Watu Ata Nature Reserve Policy Setting. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 21(3), 201.
Dhaka, Y. R., Leksono, A. S., & Suprayitno, D. (2017). Analisis dan Dampaknya secara Ekonomi, Ekologi dan Faktor yang Mempengaruhi Perambahan Hutan di Kawasan Cagar Alam Watu Ata Kecamatan Bajawa. Konservasi Sumberdaya Hutan Jurnal Ilmu Ilmu Kehutanan, 1(4), 51–58.
Djami, N. (2023). Kearifan Lokal Sebagai Strategi Perlindungan Kawasan Cagar Alam Watu Ata.
Dokumen, D., Pengelolaan, R., Kawasan, P., Cagar, K., Watu, A., Ngada, K., Nusa, P., & Timur, T. (2020). Balai besar ksda ntt. 0380.
Leri, L., Rammang, N., & Pramatana, F. (2024). Analisis Faktor-Faktor Perambahan Kawasan Hutan Kecamatan Waigete , Kabupaten Sikka , Provinsi Nusa Tenggara Timur ) Analysis Of Factors Of Encrusion Of The Egon Ilimedo Protected Forest Area Rtk 107 ( Case Study In Runut Village , Waigete District , Sikk. 06(02).
Mau, E. B. C., & Naatonis, M. (2024). The Responsibility of Natural Resources Conservation Center in Preventing Encroachment of Conservation Forest Areas in East Nusa Tenggara. Al-Ishlah: Jurnal Ilmiah Hukum, 27(1), 1–16.
Novianti, L. E., Hamzah, H., & Hariyadi, B. (2022). Kearifan Lokal Pengelolaan Hutan Adat oleh Masyarakat Adat Tigo Luhah Kemantan Kabupaten Kerinci. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 22(1), 261.
Nuraeny, T. D. A., Qomar, N., & Kausar, K. (2023). Resolusi konflik tenurial di kawasan hutan Desa Pemandang Kecamatan Rokan IV Koto Kabupaten Rokan Hulu. ULIN: Jurnal Hutan Tropis, 7(2), 183.
Sinapoy, M. S. (2018). Kearifan Lokal Masyarakat Adat Suku Moronene dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Halu Oleo Law Review, 2(2), 513.
Sugiono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan. 14.
Purwawangsa, H. (2018). Instrumen Kebijakan Untuk Mengatasi Konflik Di Kawasan Hutan Konservasi. RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN: Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian Dan Lingkungan, 4(1), 28.
Zelly Alfany, Markum, B. S. (2017). The Analysis of Factors That Cause The Encroachment Forest in The Production Forest Area Sub-enulisan


















