FENG SHUI SEBAGAI EKOTEOLOGI PRAGMATIS: SEBUAH KAJIAN ATAS PEMIKIRAN OLE BRUUN DAN RELEVANSINYA DALAM PRAKTIK BISNIS DI INDONESIA
Abstract
Makalah ini mengkaji konsep feng shui dari perspektif Ole Bruun, dengan fokus pada fungsi kosmologis dan perannya dalam persaingan sosial dan ekonomi. Studi ini kemudian dikontekstualisasikan dalam praktik bisnis kontemporer melalui studi kasus keluarga Salim, konglomerat Indonesia yang dikenal karena menerapkan feng shui sebagai pertimbangan strategis dalam bisnis mereka. Feng shui adalah tradisi perencanaan spasial berdasarkan pemahaman kosmik, spiritual, dan ekologis dalam budaya Tiongkok. Dalam wacana global, feng shui telah bertransformasi menjadi praktik yang menyertai keputusan bisnis, desain arsitektur, dan perencanaan kota modern. Di Indonesia, praktik ini telah menjadi bagian dari dinamika ekonomi diaspora Tionghoa, yang terlihat pada tokoh-tokoh seperti keluarga Salim. Makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan Ole Bruun tentang feng shui dan menilai relevansinya dalam praktik ekonomi modern Indonesia. Melalui analisis kritis, makalah ini menilai sejauh mana teori Bruun dapat menjelaskan keberhasilan ekonomi modern yang memasukkan feng shui ke dalam praktik pengambilan keputusan. Studi ini menyimpulkan bahwa feng shui ada sebagai ekoteologi pragmatis yang memainkan peran penting sebagai modal budaya dan legitimasi sosial dalam kegiatan bisnis, tetapi bukan sebagai satu-satunya penentu hasil ekonomi.
References
Bruun, O. (1996). The fengshui resurgence in China: Conflicting cosmologies between state and peasantry. The China Journal, (36), 47-65.
Bruun, O. (2003). Fengshui and the Chinese perception of nature. Dalam R. C. Foltz (Ed.), Worldviews, Religion, and the Environment: A Global Anthology. Belmont, CA: Wadsworth/Thomson Learning.
Bruun, O. (2003). Fengshui in China: Geomantic divination between state orthodoxy and popular religion. University of Hawaii Press.
Bruun, O. (2008). An introduction to feng shui.
Dewi, W. Y., Christiana, E., & Kartono, L. S. (2016). Pandangan Generasi Tua dan Generasi Muda Tionghoa Surabaya terhadap Penerapan Feng Shui Tangga. Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture, 4(1), 20-32.
Fakhriansyah, M. (2024, Januari 6). Berkat percaya Feng Shui, pria ini selalu hoki & jadi orang terkaya RI. CNBC Indonesia.
Fakhriansyah, M. (2025, Januari 3). Ikuti ajaran Feng Shui, keluarga asal Kudus punya harta tembus Rp207 T. CNBC Indonesia.
Hati, D. C., & Suwandono, D. (2013). Identifikasi Pemanfaatan Ilmu Feng Shui Pada Kawasan Pecinan Semarang. Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota), 2(3), 661-668.
Kuncono, O. S. (2025). Menjaga Hubungan Harmonis Antara Manusia Dengan Alam Lingkungan Pandangan Khonghucu. Study Park of Confucius Journal: Jurnal Ekonomi, Sosial, dan Agama, 3(1).
Kustedja, S., Sudikno, A., & Salura, P. (2012). Feng-shui: Elemen Budaya Tionghoa Tradisional. MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR), 28(1), 61-89.
Lim, S. (2019). Feng Shui: Keseimbangan dan Keharmonisan Hidup. Gramedia Pustaka Utama.
Marcella S, B. S. (2012). Penerapan Feng Shui Pada Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang (Doctoral dissertation, UAJY).
Ningrum, R. T. P. (2015). Familism Dan Guanxi Pada Chinese Work Value Perspektif Etika Bisnis Islam (Studi Pada Etnis Cina di Madiun). Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan, 10(2), 127-146.
Putra, C. S., & Effendy, J. A. (2023). Pemoderasian Feng Shui Terhadap Hubungan Antara Place Dan Business Longevity. Jurnal Keuangan dan Bisnis, 21(2), 160-174.
Supriyani, A., & Hastangka, H. (2025). Kesejahteraan Mental Berbasis Kearifan Lokal Pada Prinsip Feng Shui Dan Memayu Hayuning Bawono. Jurnal Impresi Indonesia, 4(8), 3002-3018.
Wicaksono, A. (2006). Menata Interior Sesuai Fengshui. Andie Arif Wicaksono.

















