TRADISI MALAM SATU SURO PADA MASYARAKAT DESA GIRI SAKO KECAMATAN LOGAS TANAH DARAT KABUPATEN KUANTAN SINGINGI
Abstract
Tradisi Malam Satu Suro (Suroan) pada masyarakat Jawa perantauan di Desa Giri Sako merupakan tradisi yang masih dipertahankan di tengah perubahan sosial dan penguatan nilai keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perubahan tradisi Suroan dari masa awal hingga sekarang, serta menganalisis upaya masyarakat dalam mempertahankannya dengan menggunakan perspektif Teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons (AGIL). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi, berlokasi di Desa Giri Sako, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi. Informan ditentukan dengan teknik purposive sampling, terdiri dari 4 informan utama dan 1 informan kunci. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Suroan mengalami transformasi dari ritual bernuansa kejawen dengan sesaji, ngumbah gaman, dan peran dominan sesepuh desa, menjadi kenduri dan doa bersama yang dipimpin ustaz dengan penekanan pada nilai-nilai keislaman, namun tetap dipertahankan di simpang empat sebagai lokasi pelaksanaan. Upaya pelestarian tradisi tampak melalui praktik gotong royong dan rewang, konsistensi lokasi ritual, motivasi spiritual, kesadaran kolektif, pewarisan nilai budaya kepada generasi muda, serta pemaknaan Suroan sebagai identitas budaya Jawa di perantauan. Dalam perspektif AGIL, tradisi Suroan berfungsi sebagai mekanisme adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola budaya yang menopang kohesi sosial dan identitas masyarakat Jawa di Desa Giri Sako.
References
Anita Putri Lestari, A. (2022). Tradisi Cuci Pusaka Pada malam Satu Suro dan Gaman Bekerja di Desa Tanjung, Blimbing, Sambirejo Sragen. Rihlah: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan, 10(02), 119–132. https://doi.org/10.24252/rihlah.v10i02.34818
Cindy ArtikaSakti RitongaIsmail. (2024). Tradisi Ritual Bulan Suro Dalam Perspektif Islam Sakti Ritonga Ismail Ismail Universitas Islam Negeri Sumatera Utara potensi yang dapat dikembangkan sejak lahir , bukan dilahirkan dalam keadaan hampa seperti pendidikan formal . Terlepas dari kompleksitas. 5(2), 187–197.
Dessy Nurfiani, Imelita Rahyuni Ritonga, Mami Azzahra Lubis, & Zulfadli Lingga. (2024). Konsep Budaya Dan Tradisi Jawa Terhadap Perayaan Tahun Baru Islam (Satu Suro) Di Desa Dusun V. 2(1), 08–16.
Efendi, F. (2021). Tradisi Jenang Suro Sebagai Pengikat Solidaritas Sosial. POROS ONIM: Jurnal Sosial Keagamaan, 2(1), 37–48. https://doi.org/10.53491/porosonim.v2i1.38
Noviyana, D. (2021). Makna simbolik ritual ruwatan satu suro di Candi Sima. Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, Dan Agama, 7(1), 17–24. https://doi.org/10.53565/pssa.v7i1.232
Saefullah, M. (2018). Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Pada Tradisi Nyadran Di Desatraji Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Jurnal Paramurobi, 1(2), 91–92.
Siburian, A. L. M., & Malau, W. (2018). Tradisi Ritual Bulan Suro pada Masyarakat Jawa di Desa Sambirejo Timur Percut Sei Tuan. Gondang: Jurnal Seni Dan Budaya, 2(1), 28–35. https://doi.org/10.24114/gondang.v2i1.9764
Tazkiyah, D. (2022). Adaptasi Tradisi Angpao Saat Hari Raya Lebaran Di Purwokerto: Perspektif Teori Agil Talcott Parsons. Jurnal Cakrawala Mandarin, 6(1), 76. https://doi.org/10.36279/apsmi.v6i1.156

















